Sabtu, 04 Juli 2020

Lobster Air Tawar (LAT)

Cara Mudah Budidaya Lobster Air Tawar 

Lobster Air Tawar (LAT) atau Freshwater Crayfish merupakan binatang air yang cukup mudah untuk dibudidayakan atau di ternakan. Harga jual nya yang cukup fantastis, sekitar 150-250 ribu rupiah /kg, membuat budidaya lobster air tawar menjanjikan keuntungan bila dilakukan dengan Cara Budidaya Lobster air tawar yang benar dan baik. Habitat asli Lobster Air Tawar adalah di sungai dan di rawa-rawa serta danau.

Media yang dapat di gunakan untuk budidaya lobster air tawar ini sangat bervariasi. Pada umumnya Lobster Air Tawar dibudidayakan secara extensif pada kolam tanah. Pada budidaya secara extensif petani hanya menaruh indukan pada kolam tersebut pada masa berkala kolam tersebut dikeringkan dan lobster yang sudah memenuhi ukuran komersial akan dijual dan sisanya akan dikembelikan ke kolam tanah tersebut. Pada budidaya secara intensif petani mulai memberi pakan ke dalam kolam dengan berbagai macam makan sayur-sayuran termasuk pakan komersil.

Budidaya secara intensif memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan secara extensive. Media lain yang sering digunakan adalah kolam semen atau kolam fiber (Tank). Kolam semen dan kolam fiber ini banyak digunakan untukmembesarkan burayak sampai berat sekitar 5 cm. Di Indonesia budidaya lobster air tawar banyak dilakukan dalam sekala perumahan terutama pada pembenihan.


Cara Budidaya lobster air tawar sangat cepat dan gampang, tidak seperti udang windu atau udang galah yang relatif lebih sedikit dan rumit. Orang awam pun dapat melakukannya sendiri baik dalam skala usaha kecil maupun besar. Dengan sedikit modal dan kemauan yang kuat, setiap orang dapat membudidayakan lobster air tawar. Lobster air tawar tidak mudah stres dan tidak mudah terserang penyakit. Asalkan kebutuhan pakan, kualitas air, dan kebutuhan oksigen terpenuhi maka lobster dapat tumbuh dan berkembang biak dengan cepat. Jika dilihat dari iklim dan siklus musimnya, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk melakukan budi daya lobster air tawar sepanjang tahun. Lobster air tawar yang umumnya bertelur 4–5 kali dalam setahun dapat dimanfaatkan secara maksimal. Selain kondisi iklim yang sangat mendukung, sumber pakan alami bagi lobster tersedia cukup banyak di alam dan mudah diperoleh. Dengan pakan alami tersebut, lobster akan tumbuh dengan cepat. Oleh karena budi daya lobster tidaklah sulit maka bisnis ini dapat digunakan sebagai usaha sampingan.
 
1. SYARAT HIDUP LOBSTER AIR TAWAR
Lobster air tawar (LAT) pada umumnya dapat hidup pada selang parameter air yang lebar. Mereka diketahui toleran terhadap kandungan oksigen terlarut sangat rendah. Akan tetapi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik tentu tidak akan dapat dilakukan pada kondisi demikian. Untuk tumbuh dan berkembang dengan baik mereka memerlukan kadar oksigen terlarut lebih dari 4 ppm.
2. TEMPERATUR Lobster Air TawarLAT juga toleran terhadap suhu sangat dingin mendekati beku hingga suhu diatas 35 °C. Meskipun demikian untuk LAT-LAT daerah tropis hendaknya dipelihara pada selang suhu 24 – 30° C Pertumbuhan optimum akan dapat dicapai apabila mereka dipelihara pada selang suhu 25-29 °C.
3. PH DAN KESADAHAN Lobster Air Tawar
LAT hidup pada perairan dengan kisarn pH sedikit alkalin yaitu antara 7-9. Mereka jarang dijumpai berada diperairan dengan pH kurang dari 7. Sedangkan kesadahan (kandungan kapur) air yang diperlukan adalah sedang hingga tinggi. Hal ini diperlukan untuk menjaga kandungan kalsium terlarut cukup tinggi untuk menjamin pembentukan cangkang mereka dengan baik.
4. KUALITAS AIR Lobster Air Tawar
Berbagai laporan menunjukkan bahwa LAT muda sensitif terhadap kadar klorin tinggi. Oleh karena itu sering dianjurkan untuk menuakan air terlebih dahulu sebelum digunakan untuk LAT.

LAT diketahui pula dapat mengakumulasikan merkuri (Hg) dalam tubuhnya sehingga mereka sering dijadikan sebagai indikator pencemaran lingkungan. LAT sensitif terhadap pestidida, terutama dari golongan organoklorin, begitu pula residu-residu minyak. Hal ini hendaknya menjadi perhatikan bagi mereka yang ingin membudidayakan LAT secara terbuka, agar terlebih dahulu memeriksa dengan seksama sumber air yang akan digunakan

Budidaya lobster air tawar biasanya dibedakan menjadi usaha pembenihan Lobster Air Tawar dan usaha pembesaran atau merupakan kesatuan dari keduanya.

Pembenihan adalah menghasilkan bibit atau anakan lobster air tawar hingga ukuran 2 Inci. Yang pertama kali diperlukan adalah Induk Berkualitas yang tidak mudah terserang penyakit dan bukan dari hasil perwakinan sedarah (inbreeding) pasalnya perkawainan sedarah akan menghasilkan lobster berkelamin ganda atau intersex. Berikutnya adalah kolam untuk perkawainan dengan ukuran maksimal 1m2 untuk 1 set (5 ekor betina 3 ekor jantan). Medianya cukup mengunakan aquarium atau kolam semen.

Pembesaran adalah menghasilkan lobter ukuran konsumsi, Yang pertamakali dibutuhkan yaitu bibit lobster air tawar ukuran 2 inci untuk pembesaran. Berikutnya adalah lahan yang yang cukup luas dan sebaiknya merupakan kolam tanah dengan ukuran maksimal 1 M2 untuk 10 ekor. Jantan dan betina harus dipisahkan untuk mencegah perkawinan selama pembesaran. Lobster jantan lebih cepat pertumbuhannya oleh karena itu pembesaran sebaiknya dilakukan pada lobster jantan.

PAKAN Lobster Air Tawar
Agar pertumbuhanLobster air tawar sesuai dengan yang diharapkan maka pakan yang diberikan harus mengandung nutrisi yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan Lobster air tawar. Nutrisi yang dibutuhkan Lobster air tawar terdiri dari Protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Sekarang ini sudah banyak produsen-produsen yang memproduksi pakan Lobster air tawar Jenis-Jenis Pakan Lobster Air Tawar

Pakan alami, biasanya dibudidayakan oleh peternak. Namun karena keterbatasan sarana dan prasaran biasanya peternak merasa kesulitan. Pakan alami yang dibudidayakan umumnya adalah chlorella, tetraselmis, dunaleilla, diatone, spirulina, artemia, kutu air, jentik nyamuk, cacing rambut, cacing tanah dan cacing darah.

Pakan buatan sendiri, merupakan pakan yang diracik oleh peternak dari berbagai bahan seperti: tepung rebon, tepung ikan, cacing, wortel, toge, kacang hijau dan keong mas. Pakan racikan bisa dibentuk pellet atau pasta. Pakan komersil, yaitu pakan yang sudah jadi yang dioleh oleh perusahaan pakan ikan

Pemberian pakan sebaiknya 3% dari berat badan LAT dan diberikan pada pagi atau sore hari. Jika pakan tidak habis sebaiknya dibuang pada saat pemberian pakan berikutnya.

Penyakit pada Lobster Air Tawar
Walaupun Lobster air tawar dikenal lebih tahan terhadap penyakit dibanding udang jenis lain, tidak berarti Lobster air tawar bisa terbebas dari penyakit, penyakit ini biasanya disebabkan oleh virus. Pada periode pembesaran virus yang menjadi penyebab penyakit pada Lobster air tawar adalah:

Lobster Air Tawar Part I

Cara Mudah Budidaya Lobster Air Tawar 

Lobster Air Tawar (LAT) atau Freshwater Crayfish merupakan binatang air yang cukup mudah untuk dibudidayakan atau di ternakan. Harga jual nya yang cukup fantastis, sekitar 150-250 ribu rupiah /kg, membuat budidaya lobster air tawar menjanjikan keuntungan bila dilakukan dengan Cara Budidaya Lobster air tawar yang benar dan baik. Habitat asli Lobster Air Tawar adalah di sungai dan di rawa-rawa serta danau.

Media yang dapat di gunakan untuk budidaya lobster air tawar ini sangat bervariasi. Pada umumnya Lobster Air Tawar dibudidayakan secara extensif pada kolam tanah. Pada budidaya secara extensif petani hanya menaruh indukan pada kolam tersebut pada masa berkala kolam tersebut dikeringkan dan lobster yang sudah memenuhi ukuran komersial akan dijual dan sisanya akan dikembelikan ke kolam tanah tersebut. Pada budidaya secara intensif petani mulai memberi pakan ke dalam kolam dengan berbagai macam makan sayur-sayuran termasuk pakan komersil.

Budidaya secara intensif memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan secara extensive. Media lain yang sering digunakan adalah kolam semen atau kolam fiber (Tank). Kolam semen dan kolam fiber ini banyak digunakan untukmembesarkan burayak sampai berat sekitar 5 cm. Di Indonesia budidaya lobster air tawar banyak dilakukan dalam sekala perumahan terutama pada pembenihan.


Cara Budidaya lobster air tawar sangat cepat dan gampang, tidak seperti udang windu atau udang galah yang relatif lebih sedikit dan rumit. Orang awam pun dapat melakukannya sendiri baik dalam skala usaha kecil maupun besar. Dengan sedikit modal dan kemauan yang kuat, setiap orang dapat membudidayakan lobster air tawar. Lobster air tawar tidak mudah stres dan tidak mudah terserang penyakit. Asalkan kebutuhan pakan, kualitas air, dan kebutuhan oksigen terpenuhi maka lobster dapat tumbuh dan berkembang biak dengan cepat. Jika dilihat dari iklim dan siklus musimnya, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk melakukan budi daya lobster air tawar sepanjang tahun. Lobster air tawar yang umumnya bertelur 4–5 kali dalam setahun dapat dimanfaatkan secara maksimal. Selain kondisi iklim yang sangat mendukung, sumber pakan alami bagi lobster tersedia cukup banyak di alam dan mudah diperoleh. Dengan pakan alami tersebut, lobster akan tumbuh dengan cepat. Oleh karena budi daya lobster tidaklah sulit maka bisnis ini dapat digunakan sebagai usaha sampingan.
1. SYARAT HIDUP LOBSTER AIR TAWAR

Lobster air tawar (LAT) pada umumnya dapat hidup pada selang parameter air yang lebar. Mereka diketahui toleran terhadap kandungan oksigen terlarut sangat rendah. Akan tetapi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik tentu tidak akan dapat dilakukan pada kondisi demikian. Untuk tumbuh dan berkembang dengan baik mereka memerlukan kadar oksigen terlarut lebih dari 4 ppm.
2. TEMPERATUR Lobster Air Tawar

LAT juga toleran terhadap suhu sangat dingin mendekati beku hingga suhu diatas 35 °C. Meskipun demikian untuk LAT-LAT daerah tropis hendaknya dipelihara pada selang suhu 24 – 30° C Pertumbuhan optimum akan dapat dicapai apabila mereka dipelihara pada selang suhu 25-29 °C.
3. pH DAN KESADAHAN Lobster Air Tawar

LAT hidup pada perairan dengan kisarn pH sedikit alkalin yaitu antara 7-9. Mereka jarang dijumpai berada diperairan dengan pH kurang dari 7. Sedangkan kesadahan (kandungan kapur) air yang diperlukan adalah sedang hingga tinggi. Hal ini diperlukan untuk menjaga kandungan kalsium terlarut cukup tinggi untuk menjamin pembentukan cangkang mereka dengan baik.
4. KUALITAS AIR Lobster Air Tawar

Berbagai laporan menunjukkan bahwa LAT muda sensitif terhadap kadar klorin tinggi. Oleh karena itu sering dianjurkan untuk menuakan air terlebih dahulu sebelum digunakan untuk LAT.

LAT diketahui pula dapat mengakumulasikan merkuri (Hg) dalam tubuhnya sehingga mereka sering dijadikan sebagai indikator pencemaran lingkungan. LAT sensitif terhadap pestidida, terutama dari golongan organoklorin, begitu pula residu-residu minyak. Hal ini hendaknya menjadi perhatikan bagi mereka yang ingin membudidayakan LAT secara terbuka, agar terlebih dahulu memeriksa dengan seksama sumber air yang akan digunakan

Budidaya lobster air tawar biasanya dibedakan menjadi usaha pembenihan Lobster Air Tawar dan usaha pembesaran atau merupakan kesatuan dari keduanya.

Pembenihan adalah menghasilkan bibit atau anakan lobster air tawar hingga ukuran 2 Inci. Yang pertama kali diperlukan adalah Induk Berkualitas yang tidak mudah terserang penyakit dan bukan dari hasil perwakinan sedarah (inbreeding) pasalnya perkawainan sedarah akan menghasilkan lobster berkelamin ganda atau intersex. Berikutnya adalah kolam untuk perkawainan dengan ukuran maksimal 1m2 untuk 1 set (5 ekor betina 3 ekor jantan). Medianya cukup mengunakan aquarium atau kolam semen.

Pembesaran adalah menghasilkan lobter ukuran konsumsi, Yang pertamakali dibutuhkan yaitu bibit lobster air tawar ukuran 2 inci untuk pembesaran. Berikutnya adalah lahan yang yang cukup luas dan sebaiknya merupakan kolam tanah dengan ukuran maksimal 1 M2 untuk 10 ekor. Jantan dan betina harus dipisahkan untuk mencegah perkawinan selama pembesaran. Lobster jantan lebih cepat pertumbuhannya oleh karena itu pembesaran sebaiknya dilakukan pada lobster jantan.

PAKAN Lobster Air Tawar

Agar pertumbuhanLobster air tawar sesuai dengan yang diharapkan maka pakan yang diberikan harus mengandung nutrisi yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan Lobster air tawar. Nutrisi yang dibutuhkan Lobster air tawar terdiri dari Protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Sekarang ini sudah banyak produsen-produsen yang memproduksi pakan Lobster air tawar
Jenis-Jenis Pakan Lobster Air Tawar

Pakan alami, biasanya dibudidayakan oleh peternak. Namun karena keterbatasan sarana dan prasaran biasanya peternak merasa kesulitan. Pakan alami yang dibudidayakan umumnya adalah chlorella, tetraselmis, dunaleilla, diatone, spirulina, artemia, kutu air, jentik nyamuk, cacing rambut, cacing tanah dan cacing darah.

Pakan buatan sendiri, merupakan pakan yang diracik oleh peternak dari berbagai bahan seperti: tepung rebon, tepung ikan, cacing, wortel, toge, kacang hijau dan keong mas. Pakan racikan bisa dibentuk pellet atau pasta. Pakan komersil, yaitu pakan yang sudah jadi yang dioleh oleh perusahaan pakan ikan

Pemberian pakan sebaiknya 3% dari berat badan LAT dan diberikan pada pagi atau sore hari. Jika pakan tidak habis sebaiknya dibuang pada saat pemberian pakan berikutnya.

Penyakit pada Lobster Air Tawar
Walaupun Lobster air tawar dikenal lebih tahan terhadap penyakit dibanding udang jenis lain, tidak berarti Lobster air tawar bisa terbebas dari penyakit, penyakit ini biasanya disebabkan oleh virus. Pada periode pembesaran virus yang menjadi penyebab penyakit pada Lobster air tawar adalah:

White Spot Disease (WSD)
Penyakit yang disebabkan virus ini dapat menyebabkan sisi kolam mati. Untuk mengantisipasi serangan virus ini beberapa cara dapat dilakukan, yaitu:
menghindari masuknya LAT yg terinfeksi
mengurangi kepadatan penebaran lobster di dalam kolam
menjaga tingkat kada ammonia dan keasaman air
menghindari air yang sudah digunakan untuk budidaya udang lain
membersihkan alat yang sudah terinfeksi

Ricketsia-like organism
Lobster air tawar yang terinfeksi virus ini biasanya melemah dan kadang-kadang ditandai dengan adanya bintik hitam atau biru kehijaun pada eksokoletonnya. LAT yang mati karena virus ini badan dan kepala terpisah.

Jamur (Crayfish Plague)
Lobster air tawar yang terinfeksi jamur ini umumnya jenis astacus astacus yang berasal dari eropa. Penularannya bisa melalui kutu asphanomices astaci atau bisa juga melalui peralatan yang digunakan

Selain virus tersebut di atas gangguan terhadap Lobster air tawar disebabkan oleh hama, seperti: ular, tikus, burung, lele, dan ikan gurami

Panen Hasil Lobster air tawar
Panen sebaiknya dilakukan pada suhu yang tidak terlalu panas, pagi atau sore atau malam hari. Beberapa teknik panen yang biasa dilakuan pada usaha pembesaran adalah:

1. Flow Trapping

Caranya adalah sebagai berikut:
- Turunkan air kolam sampai 2cm dan persembunyian dikeluarkan dari kolam
- Tempatkan kotak penampung di sisi kolam, tempat aerator pada kotak penampung untuk mencegah kekurangan oksigen.
Pasang papan dengan posisi seperti papan luncur, dari dasar kolam ke sisi kolam tepat di atas kotak penampung.
- Alirkan air pada papan tersebut

Naluri Lobster adalah mencari air segar, dia akan menuju air yang mengalir dari papan dan memanjatnya setelah sampai atas lobster akan jatuh ke kotak penampungan. 2. Perangkap Tikus

Teknik ini menggunakan perangkat tikus yang biasa digunakan di rumah, bagian pintu perangkapnya dig anti dengan corong.

Caranya adalah sebagai berikut:
Sebelum panen LAT jangan diberi makan
Siapkan perangkap tikus yang telah dipasang umpan yang cukup untuk semua LAT
Umpan yang digunakan adalah ikan atau keong mas
Untuk menimbulkan aroma umpan dibakar dulu

Memanen dengan cara ini air kolom tidak perlu diturunkan.
TIPS CARA BUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR

Tips 1 Budidaya Lobster air tawar:
Gunakan indukan berukuran fisik besar (dapat menghasilkan +/-500 s/d +/-900 per ekor 1 kali bertelur)sebagai produksi bibit dan untuk mempercepat pertumbuhan bibit ukuran 2Cm beri makanan ekstra berupa cacing sutra, dan berikan cacing tanah untuk mempercepat proses bertelur untuk yang dikawainkan, kemudian perlu anda ketahui juga pada proses pergantian kulit berarti proses pertumbuhan,(bertambah besar).Terutama pada proses pembesaran di aquarium,oleh karena itu guna merangsang pergantian kulit sesering mungkin seiring dengan seringnya anda melakukan pergantian air pada aquarium (tiap 3hari atau seMinggu 1kali) tergantung tingkat kekeruhan airnya.

Tips 2 Budidaya Lobster air tawar
Lakukan pengawasan sesering mungkin, untuk menghidari serangan sekelompok Lobster lain terhadap Lobster yang sedang mengalami proses ganti kulit (moulting). Oleh karena pada saat proses moulting, disamping kondisinya yang lemah,pada saat itu juga mengeluarkan cairan zat yang dapat merangsang sifat kanibal dan melakukan penyerangan terhadap lobster yang sedang tidak berdaya. Dan berikan juga pengaman pada tempat (Kolam atau Aquarium) agar Lobster tidak kabur karena sifat pengembaraanya yang tinggi, dan dapat bertahan hidup hingga 8 s/d 12 jam diluar kolam/aquarium.

Tips 3 Budidaya Lobster air tawar
Berikan makanan tambahan/ektra, terutama pada malam hari, sekitar Pkl.19.00~21.00 secukupnya, periksa dan berikan makan berupa pelet, bila sudah tidak terdapat sisa makanan yang diberikan pada waktu sore hari. Hal ini dilakukan guna menghinadri saling menyerang diantara sesama Lobster, oleh karena hewan ini mempuyai sifat kanibalisme yang sangat tinggi di samping itu aktivitas kelompok hewan ini meningkat pada malam hari termasuk untuk mencari mangsa. Jenis hewan ini tidak menebar bau anyir/amis seperti jenis udang atau ikan lainnya, jadi budidaya ternak dapat/layak dilakukan dilingkungan rumah/tempat tinggal.

Tips 4 Budidaya Lobster air tawar
Tentukan pilihan anda sebelum terjun ke dunia bisnis Lobster Air Tawar ini oleh karena cara pengelolaannya terdiri dari beberapa segmen, apakah anda sebagai : pedagang ; Ternak pembesaran ; Ternak pembibitan ;Ternak hobi/koleksi. hal ini perlu dilakukan agar langkah usaha yang anda jalankan bisa lebih terfokus. Baca juga buku sebagai referensi yang mudah didapat, dan salah satu penyedianya GRAMEDIA,yaitu Seri Agribisnis LOBSTER AIR TAWAR Pembenihan dan Pembesaran, penulis; R Hondo Wiyanto/Rudi Hartono, cetakan Jakarta 2003 dan Pembenihan Lobster Air Tawar Lokal Papua, penulis;Samuel Patasik, cetakan Jakarta 2004.
Cara Budidaya Lobster air tawar

Tips 5 Budidaya Lobster air tawar
Apabila pilihan Budidaya/ternak pembesaran,siapkan kolam untuk pembesaran mulailah dengan skala kecil dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan tetang sifat sifat yang spesifk dari hewan ini yang salah satunya adalah sifat kanibalisme yang tinggi.Agar skala resiko penyusutan pupulasi yang diakibatkan kematian dan kekurang terampilan dapat ditekan sekecil mungkin jika kelak memasuki usaha skla besar. Dan apa bila pengetahuan tersebut sudah didapat, mulailah dengan prencanaan produksi untuk target panen setiap bulan, untuk melihat ilustrasi perencanaan.

Tips 6 Budidaya Lobster air tawar
Pilihan budidaya ternak pembibitan sama dengan halnya dengan langkah budidaya pembesaran hanya pembibitan lebih sensitif lagi,sebaiknya biarkan s/d usia +/-1.5 bulan baru pindahkan kekolam pembesaran. Hewan ini memang hidup lebih sesuai di iklim tropis dengan suhu udara 24 sampai dengan 30 derajat celcius demikian juga kondisi air, khusus untuk anak yang baru dipisahkan dari induknya (burayak) pergunakan alat atau cairan pengukur Ph air, kemudian apa bila Ph air tidak ideal (Ph air ideal untuk LAT = 7 s/d 9 ) dapat diatasi dengan cara memberikan additive Ph up ataupun Ph Down, guna mempetahankan Ph ideal. Semua perlengkapan untuk mengontrol keadaan Ph air bisa didapat di tempat penjualan accessories ikan hias terdekat.

Tips 7 Budidaya Lobster air tawar
Pilihan tempat,rencanakan lokasi penempatan aquarium maupun kolam pemeliharaan pilih yang nuansanya tidak bising karena hewan ini mudah stress oleh hal-2 yang demikian,terutama pada proses perkawinan dan kehamilan kemungkinan telur yang dikandungan akan mudah rontok, sehingga akan menghambat proses pengembang biakan yang diinginkan. Hindari lingkungan hama pemangsa, tikus, kucing, dan sejenis nya,dengan memasang pelindung tutup kawat ayam dan sejenisnya. Ketinggian permukaan air 15 s/d 20 Cm dan supply oksigen yang cukup dengan memasang aerotor/air stone(gelembug-2 udara) dan Filter pump, agar selalu terjadi sirkulasi air yang bersih.

Penyakit yang disebabkan virus ini dapat menyebabkan sisi kolam mati. Untuk mengantisipasi serangan virus ini beberapa cara dapat dilakukan, yaitu:
menghindari masuknya LAT yg terinfeksi
mengurangi kepadatan penebaran lobster di dalam kolam
menjaga tingkat kada ammonia dan keasaman air
menghindari air yang sudah digunakan untuk budidaya udang lain
membersihkan alat yang sudah terinfeksi

Ricketsia-like organism
Lobster air tawar yang terinfeksi virus ini biasanya melemah dan kadang-kadang ditandai dengan adanya bintik hitam atau biru kehijaun pada eksokoletonnya. LAT yang mati karena virus ini badan dan kepala terpisah.

Jamur (Crayfish Plague)
Lobster air tawar yang terinfeksi jamur ini umumnya jenis astacus astacus yang berasal dari eropa. Penularannya bisa melalui kutu asphanomices astaci atau bisa juga melalui peralatan yang digunakan

Selain virus tersebut di atas gangguan terhadap Lobster air tawar disebabkan oleh hama, seperti: ular, tikus, burung, lele, dan ikan gurami

Panen Hasil Lobster air tawar
Panen sebaiknya dilakukan pada suhu yang tidak terlalu panas, pagi atau sore atau malam hari. Beberapa teknik panen yang biasa dilakuan pada usaha pembesaran adalah:

1. Flow Trapping

Caranya adalah sebagai berikut:
- Turunkan air kolam sampai 2cm dan persembunyian dikeluarkan dari kolam
- Tempatkan kotak penampung di sisi kolam, tempat aerator pada kotak penampung untuk mencegah kekurangan oksigen.
Pasang papan dengan posisi seperti papan luncur, dari dasar kolam ke sisi kolam tepat di atas kotak penampung.
- Alirkan air pada papan tersebut

Naluri Lobster adalah mencari air segar, dia akan menuju air yang mengalir dari papan dan memanjatnya setelah sampai atas lobster akan jatuh ke kotak penampungan. 2. Perangkap Tikus

Teknik ini menggunakan perangkat tikus yang biasa digunakan di rumah, bagian pintu perangkapnya dig anti dengan corong.

Caranya adalah sebagai berikut:
Sebelum panen LAT jangan diberi makan
Siapkan perangkap tikus yang telah dipasang umpan yang cukup untuk semua LAT
Umpan yang digunakan adalah ikan atau keong mas
Untuk menimbulkan aroma umpan dibakar dulu
Memanen dengan cara ini air kolom tidak perlu diturunkan.
 
TIPS CARA BUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR

Tips 1 Budidaya Lobster air tawar:
Gunakan indukan berukuran fisik besar (dapat menghasilkan +/-500 s/d +/-900 per ekor 1 kali bertelur)sebagai produksi bibit dan untuk mempercepat pertumbuhan bibit ukuran 2Cm beri makanan ekstra berupa cacing sutra, dan berikan cacing tanah untuk mempercepat proses bertelur untuk yang dikawainkan, kemudian perlu anda ketahui juga pada proses pergantian kulit berarti proses pertumbuhan,(bertambah besar).Terutama pada proses pembesaran di aquarium,oleh karena itu guna merangsang pergantian kulit sesering mungkin seiring dengan seringnya anda melakukan pergantian air pada aquarium (tiap 3hari atau seMinggu 1kali) tergantung tingkat kekeruhan airnya.

Tips 2 Budidaya Lobster air tawar
Lakukan pengawasan sesering mungkin, untuk menghidari serangan sekelompok Lobster lain terhadap Lobster yang sedang mengalami proses ganti kulit (moulting). Oleh karena pada saat proses moulting, disamping kondisinya yang lemah,pada saat itu juga mengeluarkan cairan zat yang dapat merangsang sifat kanibal dan melakukan penyerangan terhadap lobster yang sedang tidak berdaya. Dan berikan juga pengaman pada tempat (Kolam atau Aquarium) agar Lobster tidak kabur karena sifat pengembaraanya yang tinggi, dan dapat bertahan hidup hingga 8 s/d 12 jam diluar kolam/aquarium.

Tips 3 Budidaya Lobster air tawar
Berikan makanan tambahan/ektra, terutama pada malam hari, sekitar Pkl.19.00~21.00 secukupnya, periksa dan berikan makan berupa pelet, bila sudah tidak terdapat sisa makanan yang diberikan pada waktu sore hari. Hal ini dilakukan guna menghinadri saling menyerang diantara sesama Lobster, oleh karena hewan ini mempuyai sifat kanibalisme yang sangat tinggi di samping itu aktivitas kelompok hewan ini meningkat pada malam hari termasuk untuk mencari mangsa. Jenis hewan ini tidak menebar bau anyir/amis seperti jenis udang atau ikan lainnya, jadi budidaya ternak dapat/layak dilakukan dilingkungan rumah/tempat tinggal.

Tips 4 Budidaya Lobster air tawar
Tentukan pilihan anda sebelum terjun ke dunia bisnis Lobster Air Tawar ini oleh karena cara pengelolaannya terdiri dari beberapa segmen, apakah anda sebagai : pedagang ; Ternak pembesaran ; Ternak pembibitan ;Ternak hobi/koleksi. hal ini perlu dilakukan agar langkah usaha yang anda jalankan bisa lebih terfokus. Baca juga buku sebagai referensi yang mudah didapat, dan salah satu penyedianya GRAMEDIA,yaitu Seri Agribisnis LOBSTER AIR TAWAR Pembenihan dan Pembesaran, penulis; R Hondo Wiyanto/Rudi Hartono, cetakan Jakarta 2003 dan Pembenihan Lobster Air Tawar Lokal Papua, penulis;Samuel Patasik, cetakan Jakarta 2004.
Cara Budidaya Lobster air tawar

Tips 5 Budidaya Lobster air tawar

Apabila pilihan Budidaya/ternak pembesaran,siapkan kolam untuk pembesaran mulailah dengan skala kecil dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan tetang sifat sifat yang spesifk dari hewan ini yang salah satunya adalah sifat kanibalisme yang tinggi.Agar skala resiko penyusutan pupulasi yang diakibatkan kematian dan kekurang terampilan dapat ditekan sekecil mungkin jika kelak memasuki usaha skla besar. Dan apa bila pengetahuan tersebut sudah didapat, mulailah dengan prencanaan produksi untuk target panen setiap bulan, untuk melihat ilustrasi perencanaan.

Tips 6 Budidaya Lobster air tawar
Pilihan budidaya ternak pembibitan sama dengan halnya dengan langkah budidaya pembesaran hanya pembibitan lebih sensitif lagi,sebaiknya biarkan s/d usia +/-1.5 bulan baru pindahkan kekolam pembesaran. Hewan ini memang hidup lebih sesuai di iklim tropis dengan suhu udara 24 sampai dengan 30 derajat celcius demikian juga kondisi air, khusus untuk anak yang baru dipisahkan dari induknya (burayak) pergunakan alat atau cairan pengukur Ph air, kemudian apa bila Ph air tidak ideal (Ph air ideal untuk LAT = 7 s/d 9 ) dapat diatasi dengan cara memberikan additive Ph up ataupun Ph Down, guna mempetahankan Ph ideal. Semua perlengkapan untuk mengontrol keadaan Ph air bisa didapat di tempat penjualan accessories ikan hias terdekat.

Tips 7 Budidaya Lobster air tawar
Pilihan tempat,rencanakan lokasi penempatan aquarium maupun kolam pemeliharaan pilih yang nuansanya tidak bising karena hewan ini mudah stress oleh hal-2 yang demikian,terutama pada proses perkawinan dan kehamilan kemungkinan telur yang dikandungan akan mudah rontok, sehingga akan menghambat proses pengembang biakan yang diinginkan. Hindari lingkungan hama pemangsa, tikus, kucing, dan sejenis nya,dengan memasang pelindung tutup kawat ayam dan sejenisnya. Ketinggian permukaan air 15 s/d 20 Cm dan supply oksigen yang cukup dengan memasang aerotor/air stone(gelembug-2 udara) dan Filter pump, agar selalu terjadi sirkulasi air yang bersih.
 
 
 
 
Salam 2 Capit
 
 

Kamis, 13 November 2014


Khamis 13 November 2014

MANAJEMEN PROYEK UNTUK EPC

Sebelum diuraikan lebih lanjut mengenai Manajemen Proyek, perlu kiranya memahami terlebih dahulu pengertian mengenai PROYEK. Proyek merupakan suatu rangkaian atau kumpulan dari kegiatan-kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Secara khusus proyek itu dilaksanakan dalam waktu yang tertentu yang mempunyai awal (yaitu saat rangkaian kegiatan itu dimulai) dan mempunyai akhir (yaitu saat rangkaian kegiatan itu diakhiri), berbeda dengan jenis rangkaian kegiatan yang tidak jelas kapan dimulainya dan/atau kapan akan berakhir yang dikenal dengan istilah kegiatan RUTIN. Hal lain yang cukup penting dari suatu proyek adalah bahwa untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan diperlukan suatu sumberdaya yang antara lain meliputi tenaga kerja, perlatan, uang, teknologi, metodologi. Tiga sumberdaya yang pertama sering dikenal dengan istilah 3M (Man, Machine, Money), sementara dua sumberdaya yang terakhir baru dikenal belakangan ini karena perkembangannya yang sangat luar biasa dalam era informasi yang didukung oleh kemajuan teknologi komputer. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai definisi Proyek dapat merujuk pada Project Management Body of Knowledge (PMBOK) yang dikembangkan oleh Project Management Institute (PMI) yang berkedudukan di Amerika Serikat yang dipakai secara luas di dunia.

Dalam prakteknya, Pemilik Proyek bisa saja memulai proyek dengan menunjuk suatu perusahaan untuk membuat disain dari fasilitas yang akan dibangun. Untuk fasilitas yang berupa gedung, perusahaan yang diminta membuat disain biasanya adalah perusahaan arsitek. Untuk fasilitas yang berupa pabrik, perusahaan yang diminta membuat disain biasanya adalah perusahaan konsultan engineering. Kemudian berdasarkan disain yang ada, Pemilik Proyek bisa saja langsung menunjuk perusahaan kontraktor untuk membangun atau membeli mesin atau material utama dari fasilitas yang akan dibangun dari pemasok kemudian baru menunjuk kontraktor untuk melakukan fabrikasi atau instalasi mesin atau perlatan utama tersebut sehingga bisa digunakan atau dioperasikan. Cara ini sangat umum dilakukan pada masa lalu bahkan masih dilakukan pada saat ini. Tentu saja pemisahan fungsi perusahaan yang ditunjuk untuk melaksanakan proyek masing-masing untuk disain, pasokan mesin atau material, dan fabrikasi/instalasi dapat menimbulkan kerumitan tersendiri dalam melakukan integrasi anatar masing-masing produk setiap perusahaan demikian juga sinkronisasi jadwalnya.

Baik dalam industri bangunan gedung maupun pabrik, beberapa pemilik proyek mulai menyatukan fungsi disain, pasokan mesin/material, dan fabrikasi/instalasinya oleh satu perusahaan yang dikenal dengan Design-Build Contractor (untuk gedung) dan EPC Contractor (untuk pabrik). EPC singkatan dari Engineering-Procurement-Construction. Dalam hal EPC, perusahaan kontraktor EPC bertanggung jawab atas pembuatan disain (tentu saja berdasarkan kebutuhan dari Pemilik Proyek), pembelian mesin atau material konstruksi, dan pelaksanaan fabrikasi dan instalasinya sampai fasilitas tersebut siap digunakan atau dioperasikan. Kegiatan Engineering dimulai dari survey lapangan dimana fasilitas akan dibangun. Berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan survey Kontraktor EPC mulai melakukan disain (perhitungan, pembuatan spesifikasi, dan gambar-gambar konstruksi). Sebelum pekerjaan disain selesai seluruhnya, Kontraktor EPC mulai mengidentifikasi mesin-mesin atau material-material yang penyiapannya di pabrik memerlukan waktu yang cukup lama, demikian juga waktu pengirimannya melalui trasportasi laut yang memerlukan penjadwalan yang ketat. Namun demikian, order pembelian baru bisa dilaksanakan setelah disain terkait dengan mesin-mesin atau barang-barang tersebut telah selesai. Barang-barang yang memerlukan waktu lama untuk penyiapan sampai bisa terkirim di lapangan disebut sebagai Long Lead Item (LLI). Kontraktor juga sudah bisa memulai pekerjaan persiapan tanah atau pondasi lebih awal sebelum seluruh disain selesai, yang penting disain yang terkait dengan pekerjaan tersebut telah selesai. Setiap pekerjaan dari Engineering, Procurement, sampai Construction dilakukan dengan prosedur yang telah ditetapkan dan disepakati antara Pemilik Proyek dan Kontraktor, hal ini diperlukan untuk tujuan pengawasan pelaksanaan pekerjaan oleh Pemilik Proyek (dilakukan sendiri atau menunjuk perusahaan pengawas konstruksi. Pada saat semua pekerjaan telah selesai dilaksanakan, maka diadakan serah terima pekerjaan dari Kontraktor ke Pemilik Proyek. Untuk menjamin bahwa fasilitas yang dibangun sesuai kebutuhan Pemilik Proyek, biasanya Pemilik Proyek menetapkan adanya masa pemeliharaan yang berlaku sejak fasilitas tersebut diserahterimakan dari Kontraktor ke Pemilik Proyek. Pada saat serah terima pekerjaan, biasanya Pemilik Proyek melibatkan calon pemakai fasilitas untuk memastikan bahwa fasilitas yang dibangundapat dioperasikan dan dilakukan perbaikan apabila terjadi kerusakan. Apabila selama masa pemeliharaan tersebut, ditemukan ketidak sesuaian antara kebutuhan Pemilik dengan bangunan yang dibuat oleh Kontraktor atau terdapat kerusakan, maka Kontraktor wajib melakukan pernyesuaian dan perbaikan tanpa meminta tambahan biaya.

1. PARAMETER KEBERHASILAN

1.1 Kegiatan engineering dianggap berhasil apabila beberapa parameter dibawah ini dipenuhi:

  • Safe & Environmental Friendly: kegiatan survey harus dapat dilakukan secara aman dan tidak menimbulkan gangguan/kerusakan lingkungan, demikian juga fasilitas yang didisain telah memenuhi persyaratan keamanan dan lingkungan yang ditetapkan berdasarkan standar internasional dan peraturan pemerintah yang berlaku.
  • Availability of Material: fasilitas yang didisain harus mempertimbangkan ketersediaan material baik secara kualitas maupun kuantitas.
  • Constructable: fasilitas yang didisain harus dapat dibangun di lokasi yang dipersiapkan dengan menggunakan tenaga kerja, peralatan, teknologi dan metodologi yang ada.
  • Specification and drawing are defined: disain harus dituangkan dalam bentuk spesifikasi dan gambar yang lengkap dan jelas.
  • Testable: fasilitas yang didisain harus memungkinkan untuk dilakukan pengujian sehingga dapat diukur kualitasnya pada saat sudah terpasang sebelum dioperasikan.
  • Maintainable: fasilitas yang didisain harus memungkinkan untuk dilakukan pemeliharaan dan perawatan sesuai kebutuhannya sehingga mempunyai umur ekonomi sesuai yang diharapkan. Beberapa bagian bisa saja tidak memerlukan perawatan (free maintenance) karena suatu alasan tertentu.
  • Expandable: fasilitas yang didisain harus memungkinkan untuk dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dimasa yang akan dating yang belum dapat ditetapkan sekarang.
  • On Schedule: disain harus dikerjakan sesuai jadwal yang ditetapkan sehingga tidak mempengaruhi target penyelesaian proyek secara keseluruhan.
  • On Budget: fasilitas yang didisain harus memenuhi batasan anggaran yang tersedia.


1.2 Kegiatan procurement dianggap berhasil apabila beberapa parameter dibawah ini dipenuhi:

  • Fit to Spec/Drawing: Mesin atau material yang dibeli harus sesuai dengan spesifikasi dan gambar disain.
  • Inspection and Test are defined: harus ada tatacara inspeksi dan pengujian terhadap mesin atau material yang dibeli.
  • Documentation is detailed: dokumentasi mesin atau material harus lengkap dan rinci mulai dari hasil pengujian sampai sertifikatnya. Untuk mesin, harus dilengkapi juga dengan tatacara (manual) pengoperasiannya.
  • Traceable: semua proses dalam pembuatan mesin atau material sampai terkirim di lapangan harus dapat dilacak informasinya. Misalnya apakah suatu material tertentu pernah mengalami perbaikan selama pembuatan atau pengiriman.
  • Ease or Safe for delivery: mesin atau material hendaknya dikemas dengan ukuran dan kemasan yang aman dan mudah untuk pengiriman.
  • On schedule: mesin atau material agar dapat dikirim ke lapangan sesuai jadwal yang ditetapkan.


1.3 Kegiatan construction dianggap berhasil apabila beberapa parameter dibawah ini dipenuhi:

  • Safe & Environmental Friendly: pekerjaan di lapangan harus dilaksanakan dengan aman tanpa suatu kecelakaan yang fatal sesuai kebijakan keamanan dan keselamatan kerja perusahaan atau yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah yang berlaku. Demikian juga agar pelaksanaan pekerjaan tidak mengganggu atau merusak lingkungan sesuai ketentuan pemerintah yang berlaku.
  • Fit to Spec/Drawing: Mesin atau material yang dipasang harus sesuai dengan spesifikasi dan gambar disain.
  • Work Plan and Schedule are clear: harus dibuat work plan yang jelas merinci setiap pekerjaan dan dijadwalkan sesuai target yang ditetapka oleh pemilik proyek.
  • Inspection and Test are defined: harus ada tatacara inspeksi dan pengujian terhadap mesin atau material yang dipasang di lapangan.
  • Documentation is detailed: dokumentasi mesin atau material harus lengkap dan rinci mulai dari hasil pengujian sampai sertifikatnya. Untuk mesin, harus dilengkapi juga dengan tatacara (manual) pengoperasiannya. Untuk pekerjaan dilapangan harus mencatat tenaga kerja, peralatan yang dipakai, kondisi cuaca setiap hari, dan segala macam kejadian yang mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan.
  • Traceable: semua proses pemasangan mesin atau material di lapangan harus dapat dilacak informasinya. Misalnya apakah suatu material tertentu pernah mengalami perbaikan selama.
  • On schedule: mesin atau material agar dapat dipasang di lapangan sesuai jadwal yang ditetapkan.
  • Within Budget: pelaksanaan pekerjaan harus dijaga tidak menimbulkan biaya-biaya tambahan yang tidak seharusnya diperlukan.


1.4 Kegiatan start up and commissioning dianggap berhasil apabila beberapa parameter dibawah ini dipenuhi:

  • Safe & Environmental Friendly: pekerjaan start-up and commissioning di lapangan harus dilaksanakan oleh orang yang berpengalaman dalam mengoperasikannya dengan aman tanpa suatu kecelakaan yang fatal sesuai kebijakan keamanan dan keselamatan kerja perusahaan atau yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah yang berlaku. Demikian juga agar pelaksanaan pekerjaan start-up and commissioning tidak mengganggu atau merusak lingkungan sesuai ketentuan pemerintah yang berlaku.
  • Produce suitable product: start up and commissioning untuk memastikan bahwa fasilitas yang terpasang sesuai dengan yang diharapkan.
  • Operable and Maintainable: start-up and commissioning harus memastikan bahwa fasilitas yang terpasang dapat dioperasikan dengan baik dan memungkinkan untuk melakukan perawatan atau perbaikan pada saat pengoperasiannya.
  • On schedule: start-up and commissioning agar dapat dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan dan dapat diintegrasikan dengan fasilitas lain yang terkait.
  • Handover document is defined: dokumen yang diserahterimakan sebelum start-up and commissioning lengkap sehingga memudahkan untuk mengambil tindakan selama proses commissioning.

2. SITUASI KRITIS:


2.1 Dibawah ini merupakan isu-isu kritis yang mungkin terjadi selama kegiatan engineering yang perlu diantisipasi:

  • Incomplete Soil Investigation Data: Seringkali data tanah tidak lengkap sehingga menyulitkan dalam menilai daya dukung tanah untuk penetapan struktur bangunan (pondasi, rangka bangunan)
  • Engineered Equipment: seringkali fasilitas yang akan dibangun memerlukan mesin-mesin atau peralatan yang harus didisain secara khusus karena tidak tersedia di pasaran.
  • Deliverables approval: harus ada kesepakatan yang jelas mengenai proses persetujuan dokumen antara konyraktor dan pemilik proyek, sehingga tidak terjadi keterlambatan pekerjaan karena terhambatanya persetujuan dokumen.


2.2 Dibawah ini merupakan isu-isu kritis yang mungkin terjadi selama kegiatan procurement yang perlu diantisipasi:

  • Long Lead Items: ada beberapa mesin atau material yang memelukan waktu yang cukup panjang untuk pembuatannya di pabrik dan proses pengirimannya sampai di lapangan. Barang-barang ini harus segera dipesan tanpa menunggu semua pekerjaan engineering selesai.
  • Letter of Credit: untuk barang-barang yang perlu pembuatan di pabrik dan/atau perlu pengiriman melalui laut biasanya meminta pembayaran dalam bentuk letter of credit. Barang tidak akan dikirim sebelum pabrik menerima letter of credit.
  • Inspection/Certification: Barang yang diproduksi di pabrik biasanya memerlukan inspeksi dari pejabat pemerintah yang terkait atau memerlukan sertifikasi dari lembaga tertentu.
  • Import: Perlu penanganan custom clearance di pelabuhan penerima yang terkait dengan ketentuan bea masuk.
  • Material traceability: Untuk barang-barang yang di produksi di pabrik kemudian memerlukan pengiriman melalui laut dan pengiriman lewat darat memerlukan traceability untuk memastikan apakah barang yang diterima di lapangan adalah benar barang yang diproduksi di pabrik.
  • Vendor Documents TBA and PO: Seringkali kontraktor harus memilih salah satu vendor dari beberapa vendor sejenis yang akan memasok suatu barang tertentu. Technical Bid Analysis dibuat untuk mengevaluasi apakah vendor telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam proyek ini. Keterlambatan pembuatan PO biasanya disebabkan oleh keterlambatan pengambilan keputusan penetapan vendor terpilih.


2.3 Dibawah ini merupakan isu-isu kritis yang mungkin terjadi selama kegiatan construction yang perlu diantisipasi:

  • Accessibility to Site: Menjadi sangat penting untuk mengetahui dengan baik kemudahan untuk mencapai lapangan tempat dilakukannya pekerjaan baik terkait dengan lokasi gudang atau lahan tempat penampungan sementara barang-barang atau peralatan kerja maupun lokasi tempat fasilitas akan dibangun. Apakah tersedia jalan masuk yang memadai dari jalan umum ke lokasi proyek (penampungan sementara atau tempat fasilitas), sehingga memungkinkan orang, kendaraan, barang-barang, mesin, alat berat dan lain-lain terkait dengan pembangunan fasilitas dapat dibawa masuk atau keluar dari lokasi proyek. Jalan masuk sementara biasanya dibangun untuk kebutuhan ini. Kualitas jalan masuk ini harus disesuaikan dengan beban angkut proyek yang ada.
  • Change in Subsurface Condition: Keadaan dibawah permukaan lokasi pembangunan fasilitas biasanya telah disediakan informasi oleh pemilik proyek dengan kuantitas dan kualitas yang bervariasi. Pelaksana pekerjaan biasanya menunjuk orang yang sangat berpengalaman dalam mengenali kondisi bawah permukaan lokasi proyek untuk memeriksa kehandalan data yang diberikan oleh pemilik proyek dan melakukan penelitian lebih mendalam mengenai keadaan bawah permukaan tanah tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan masalah yang akan dihadapi pada saat pelaksanaan pekerjaan tersebut. Informasi ini akan menjadi pertimbangan pada saat penetapan biaya pelaksanaan proyek sebelum ditandatanganinya kontrak pekerjaan, dan juga akan dipakai sebagai pertimbangan untuk melakukan klaim pada saat pelaksanaan pekerjaan apabila dijumpai hal-hal yang mengganggu pelakasanaan pekerjaan yang mempengaruhi biaya, waktu dan kualitas pekerjaan.
  • Change in Season Condition: Perubahan cuaca dilokasi proyek biasanya sering terjadi dan mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Pelaksana pekerjaan harus selalu mencatat cuaca harian selama pekerjaan berlangsung. Karena cuaca bisa saja setiap saat berubah tergantung dari perubahan aktifitas kehidupan manusia disekitarnya, maka pelaksana proyek harus mempersiapkan berbagai cara untuk mengantisipasi terjadinya perubahan cuaca dalam batasan kewajaran diwilayah tersebut. Pelaksana harus menyisihkan cadangan biaya dan bahan untuk kondisi-kondisi darurat untuk meminimalkan kerugian yang akan timbul akibat perubahan cuaca ini yang umumnya tidak bisa diklaim ke pemilik proyek, kecuali hal-hal yang melebihi kondisi normal yang dapat dikelompokkan ke tingkat bencana alam (yang diumumkan oleh pemerintah setempat).
  • Material traceability: pencatatan barang-barang yang dipakai di lokasi proyek harus dilakukan dengan tatacara yang baik yang kita kenal dengan traceability System yang mencatat asal-usul barang dibuktikan dengan dokumen-dokumen barang yang sah seperti sertifikat atau hasil pengujian, dokumen pengiriman dan penyimpanan barang, dan dokumen-dokumenterkait lainnya. Demikian juga harus dipastikan setiap barang yang dikirim sedapat mungkin diberikan identifikasi (nomer dank ode yang unik) sehingga memudahkan dalam pelacakannya. Catatan ini masih harus disimpan terus sampai masa operasi nantinya. Beberapa perusahaan sudah mempunyai tatacara pelacakan barang ini dengan sistim kmomputer yang baik sehingga pelacakan dapat dilakukan dengan cepat dan akurat.
  • Environmental Impact: Pemilik proyek biasanya sudah memberikan analisa mengenai dampak lingkungan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. Pelaksana proyek harus melakukan pengelolaan dan pemantauan mengenai dampak lingkungan dan melaporkan kepada pemilik proyek maupun ke instansi pemerintah yang ditunjuk. Didalam dokumen Analisa mengenai dampak lingkungan biasanya menjelaskan secara rinci kondisi lingkungan, ketentuan mengenai kondisi lingkungan, tata cara kerja pelaksanaan proyek yang diijinkan untuk setiap kondisi lingkungan. Setiap orang yang bekerja didalam proyek khususnya para pemimpin proyek harus mengetahui dengan baik dan dapat melaksanakan ketentuan mengenai lingkungan ini dengan sebaik-baiknya dalam pelaksanaan proyek.
  • Interfacing with Other facilities: Fasilitas yang akan dibangun di lokasi proyek ini seringkali terkait dengan fasilitas lain terutama yang ada didalam dan disekitar lokasi proyek seperti fasilitas yang sudah ada di lokasi proyek, jalan masuk, sambungan listrik, sambungan air, sambungan telepon, dan sambungan-sambungan lainnya. Posisi fasilitas yang akan dipasang harus sesuai dengan posisi fasilitas yang sudah ada sehingga dapat dilakukan penyambungan dengan baik. Waktu pemasangan fasilitas juga harus disinkronisasikan dengan kesiapan fasilitas lainnya yang akan disambung.
  • Field Changes: Waktu pelaksanaan pekerjaan biasanya berbeda terlalu jauh dengan saat perancangan sehingga kondisi lapangan bisa saja sudah tidak lagi sesuai dengan hasil survey pada saat perancangan. Sehingga diperlukan penyesuaian barang-barang maupun pemasangannya untuk menyesuaikan dengan kondisi lapangan pada saat dilaksanakan pekerjaan tersebut. Perubahan-perubahan ini dituangkan dalam nota perubahan yang disepakati oleh pelaksana pekerjaan dan pemilik proyek. Apabila terdapat implikasi biaya, waktu dan kualitas pekerjaan atau barang, maka perubahan tersebut harus dituangkan dalam perjanjian kontrak (amandemen).
  • Inspection & Certification: Beberapa fasilitas yang dibangun memerlukan pengawasan dan sertifikasi dari lembaga pemerintah yang ditunjuk untuk itu, yang menyebabkan p=fasilitas tersebut baru boleh digunakan setelah dilakukan pemeriksaan dan sertifikasi oleh instansi yang berwenang.


2.4 Dibawah ini merupakan isu-isu kritis yang mungkin terjadi selama kegiatan Star-up & Commissioning yang perlu diantisipasi:

  • Completeness of Documents: Start-up dari suatu peralatan biasanya dilakukan oleh calon pemakai fasilitas tersebut karena merekalah yang tahu apa yang mereka perlukan dan bagaimana cara menggunakan, melakukan perbaikan dan/atau perawatan. Untuk itu diperlukan dokumen yang lengkap terkait dengan pengoperasian dan perawatan untuk memudahkan mengatasi maslah yang akan timbul. Dokumen-dokumen itu disamping harus lengkap juga harus mudah didapatkan.
  • Availability input material: Untuk melakukan pengoperasian fasilitas yang memerlukan input material harus dipastikan matrial input tersebut sudah tersedia dan siap dipakai pada saat start-up.
  • Readiness of users: Kesiapan pemakai fasilitas harus dipastikan jadwalnya yang meliputi kelengkapan organisasi, pelatihan, dan prosedur pengoperasian dan perawatan.
  • Commisioning: Pada saat pelaksanaan penyerahan pekerjaan dari pelaksana proyek ke pengguna pfasilitas, maka pimpinan pengoperasian adalah pengguna fasilitas, sementara itu pelaksana proyek harus ada di lokasi proyek lengkap dengan berbagai peralatan dan barang yang diperlukan untuk pengoperasian fasilitas dan membantu pengguna fasilitas dalam pengoperasian fasilitas.
  • Certification: Pastikan bahwa sertifikat pengopersian telah diperoleh dari instansi yang berwenang sebelum pelaksanaan start-up dan commissioning. Biasanya akan dikeluarkan sertifikat pengoperasian sementara sampai waktu yang diperlukan untuk commissioning dipenuhi sesuai spesifikasi fasilitas.


3. SOLUSI (INISIATIF PROSPEKTIF):

  • Coordination: Adanya berbagai pihak yang terkait dengan pembanguna proyek ini (stakeholders) dengan masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda, maka perlu dilakukan koordinasi dalam bentuk rapat-rapat (pembukaan proyek, harian, mingguan, bulanan, adhoc, dan penutupan proyek). Pada saat pembuakaan proyek, hendaknya dilakukan rapat yang melibatkan seluruh pihak terkait terutama pemilik dan pelaksana proyek untuk membahas rencana pelaksanaan pekerjaan berdasarkan perjanjian yang disepakati yang meliputi organisasi, prosedur proyek, jadwal pelaksanaan, rencana pembayaran dan sistim koordinasi.
  • Document Control: Selain dokumen yang telah ada sebelum pelaksanaan proyek akan ada banyak sekali dokumen yang dibuat maupun diterbitkan selama pelaksanaan proyek seperti: surat-menyurat, notulen rapat, laporan-laporan, gambar pelaksanaan, spesifikasi pekerjaan dan peralatan, hitungan-hitungan, rincian kuantitas barang dan harga, hasil pemeriksaan pekerjaan, sertifikat-sertifikat, berita acara – berita acara, perubahan kontrak, gambar as-built, dan dokumen serah terima pekerjaan sebagian ataun seluruhnya. Dokumen-dokumen ini harus dicatat disimpan dan didistribusikan dengan tata cara yang baik sehingga memudahkan untuk menemukan dan memakainya.
  • Traceabilty: Semua barang dan pekerjaan yang melekat dalam fasilitas yang dibangun harus didukung dengan dokumen pelengkap yang mendukung (asal-usul bahan baku, hasil pemeriksaan pembuatan, hasil pengujian, sertifikat pabrik, dokumen pengiriman darat dan laut, dokumen penerimaan barang di gudang, dokumen pengambilan dari gudang, dokumen pemasangan di lapangan, dokumen pengujian hasil pemasangan, sertifikat dari instansi terkait. Dokumen-dokumen ini harus dicatat disimpan dan didistribusikan dengan tata cara yang baik sehingga memudahkan untuk menemukan dan memakainya.
  • Expediting: Khususnya untuk barang-barang yang dibuat di pabrik maka harus dibuat jadwal yang rinci mulai dari persiapan produksi, kegiatan produksi, pengujian, pengiriman dengan perjalanan darat atau laut (rencana keberangkatan/kedatangan, actual keberangkatan/kedatangan). Hal ini diperlukan karena dalam proses ini terkait dengan berbagai pihak antara lain: pabrik, jasa pengujian, jasa pengiriman barang, jasa pengurusan dokumen pengapalan, asuransi pengangkutan, pengurusan pajak-pajak impor dan lain-lain. Ketidaksiapan dokumen formalities di pelabuhan akan menyebabkan tertahannya kapal di pelabuhan yang akan menimbulkan denda (demurrage) yang sangat mahal.
  • Project Control (Schedule/Cost): Dalam rangka menjaga pelaksanaan pekerjaan sesuai jadwal dan biaya yang telah ditetapkan, maka perlu ditunjuk seorang project controller yang bersama-sama pemilik (untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan) dan pelaksana (mengatur sumberdaya manusia, barang-barang dan peralatan) proyek membuat rencana pelaksanaan pekerjaan. Rincian pekerjaan dibuat dari tingkat yang paling ringkas sampai sangat detil yang memungkinkan bagi pemilik maupun pelaksana untuk mengawasi dan mengendalikan (small manageable unit). Jadwal biasanya dibuat dalam bentuk CPM dan Barchart (atau timeline diagram), sementara biaya biasanya dibuat dalam bentuk progress measurement rule dan progress interim calculation yang memasukkan bobot pekerjaan. Project Controller biasanya akan berhubungan dengan semua pihak didalam proyek untuk mendapatkan informasi terakhir dari setiap unit pekerjaan dan melaporkan kepada pimpinan proyek untuk memberikan bahan-bahan penting dari suatu kemajuan pekerjaan yang memerlukan pengambilan keputusan dari pimpinan proyek.
  • Quality Assurance & Quality Control: khusus untuk pengendalian kualitas proyek, biasanya proyek membentuk tim khusus yang harus bekerja sejak awal proyek (engineering), saat pelaksanaan (procurement & construction) dan pada saat serah terima pekrjaan (start-up & commissioning). Pelaksana biasanya telah menyiapkan rencana pemeriksaan dan pengujian barang dan pekerjaan (Inspection and Test Plan) yang akan dijadikan pedoman oleh setiap pihak (pemilik, pelaksana, instansi terkait) untuk melakukan pengendalian kualitas.
  • Quantity Surveyor: Untuk menghitung kuantitas barang-barang atau pekerjaan biasanya diperlukan timkhusus untuk melakukan pengukuran dan evaluasi disamping untuk tujuan pengendalian juga untuk keperluan penyelesaian klaim antara pihak.
  • Variation: untuk jenis kontrak lumpsum ataupun harga satuan bisa saja terjadi perubahan kuantitas dan harga yang akan mempengaruhi nilai kontrak. Setiap pihak harus mendokumentasikan setiap perubahan yang terjadi selama pelaksanaan pekerjaan untuk menetapkan apakah ada perubahan kuantitas dan harga atau tidak. 
  • Contract Administration: dalam rangka pengendalian kontrak perlu dilakukan kegiatan administrasi kontrak oleh seseorang yang memahami kontrak secara hukum dan secara aplikasi. Semua pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang didalam perjanjian harus dicatat dan dievaluasi apakah sudah dijalankan sesuai kontrak atau ada penyimpangan dalam pelaksanaannya. Penyimpangan pelaksanaan ketentuan kontrak biasanya akan menimbulkan klaim dari salah satu pihak kepada pihak yang lain. Tidak semua ketentuan di dalam kontrak akan digunakan didalam pelaksanaan kontrak karena itu hanya diatur didalam kontrak untuk tujuan mengantisipasi apabila terjadi suatu keadaan tertentu, seperti misalnya: force majeure, termination, penalty dll. Seseorang yang telah mengalami bekerja pada proyek dengan mengalami kejadian-kejadian tertentu yang harus menggunakan ketentuan-ketentuan dalam kontrak tersebut mempunyai kelebihan dibandingkan orang-orang yang tidaka mengalami langsung. Orang tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang terbaik kepada pimpinan proyek untuk mengambil keputusan atau penyelesaian masalah yang terbaik pula.
  • Verification Invoice: salah fungsi penting didalam pelaksanaan kontrak adalah melakukan tagihan atas pekerjaan yang sudah dilaksanakan sesuai ketentuan kontrak. Pemilik perlu melakukan pemeriksaan terhadap tagihan yang diajukan oleh pelaksana pekerjaan untuk memastikan bahwa tagihan yang diajukan sesuai ketentuan dalam kontrak dan dilengkapi dengan berita acara kemajuan pekerjaan dan bukti pendukung yang memadai dan sah. Keterlambatan dalam melakukan verifikasi ini akan menyebabkan realisasi pembayaran ke pelaksana yang lebih lanjut akan mengganggu aliran kas pelaksana yang secara langsung akan mengganggu operasional pekerjaan di lapangan.
  • Settlement of Claims: Setiap saat dalam proses pelaksanaan pekerjaan bisa saja timbul berbagai klaim ke pemilik baik yang dating dari pelaksana maupun dari pihak lain yang terganggu atau dirugikan oleh pelaksanaan pekerjaan. Klaim dari pihak pelaksana yang terkait langsung dengan fasilitas yang sedang dibangun biasanya lebih mudah mengevaluasi dan memutuskannya, tetapi klaim yang bersalah dari pihak ketiga sering kali sulit diselesaikan karena biasanya tidak bisa didefinisikan secara tegas didalam kontrak. Resiko-resiko seprti ini biasanya dikumpulkan dan pindahkan ke pihak lain seperti asuransi atau pihak penjamin lainnya. Untuk bisa menyelesaikan klaim diperlukan dokumentasi yang baik dan lengkap (laporan-laporan dan berita acara kejadian).
  • Close-out Report: Salah satu cara mendokumentasikan pengalaman selama pelaksanaan pekerjaan sampai terselesaikannya pembangunan fasilitas tersebut adalah melalui penyusunan Colse-out Report yang berisi semua kejadian-kejadian penting dan cara menyelesaikannya (lesson learned) yang dapat dijasikan acuan untuk pelaksanaan pekerjaan dimasa yang akan datang. Umumnya, sebuah close-out report berisi semua dokumentasi proyek yang disusun secara sistematis sehingga mudah untuk mempelajari dan menggunakannya. Yang paling simple dari sebuah close-out report berisi semua dokumen yang akan diserahterimakan dari pelaksana ke pemilik yang minimal berisi as-built drawing dan berbagai manual pengoperasiaon dan perawatan.

Dalam sebuah organisasi proyek EPC dimana ada pemilik dan pelaksana, inisiatif prospektif (solusi) atas situasi kritis untuk menjaga reputasi organisasi agar proyek berjalan sesuai harapan semua pihak (stakeholder) biasanya dilakukan oleh sebuah konsultan manajemen proyek yang memahami sifat-sifat proyek yang dilaksanakan secara integral sejak kegiatan engineering, procurement, construction, dan sampai start-up & commissioning.

Sabtu, 09 November 2013

Contoh Dan Cara Menulis Karya Tulis

Menulis Karya Tulis

Contoh Dan Cara Menulis Karya Tulis | Karya tulis adalah karangan atau tulisan yang disusun secara sistematis berdasarkan pola penalaran ilmiah dan ilmu pengetahuan tertentu. Karya ilmiah harus bersifat logis, objektif, sistematis, dan jelas. 

Logis artinya karya tulis tersebut dapat diterima oleh akal/pikiran dan dapat dibuktikan dengan terapan ilmu pengetahuan. Objektif, artinya karya tulis tersebut sesuai dengan fakta, dijelaskan dengan keadaan yang sebenarnya, tidak dipengaruhi oleh subjektivitas pribadi. Sistematis, artinya disajikan dengan cara yang teratur sesuai dengan aturan penulisan. Jelas, artinya berbahasa lugas, efektif, dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. Dalam menulis sebuah karya ilmiah harus didukung data-data yang valid dan cukup.

Pernahkah kamu memahami bagian-bagian sebuah karya tulis ilmiah yang lengkap? Bagaimana susunan karya ilmiah tersebut? Mari kita ikuti pelajaran berikut!

1. Penulisan Karya Tulis

Karya ilmiah terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian pembahasan, dan bagian penutup.
Bagian pendahuluan, berisi hal-hal yang berkenaan dengan latar belakang masalah, tujuan penulisan, dan landasan teori yang digunakan.

Bagian pembahasan, berisi gagasan-gagasan permasalahan yang hendak disampaikan. Di dalamnya disajikan laporan disertai data-data dan analisis dari permasalahan yang diangkat/diteliti.
Bagian penutup, berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi uraian masalah-masalah yang dianggap penting dari uraian yang dijabarkan sebelumnya. Sementara saran adalah tanggapan yang berupa tindak lanjut dari laporan penelitian yang dilakukan.
Pahamilah contoh kerangka karya tulis berikut!
Halaman judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel dan Gambar
 (jika ada)
Bagian pengantar
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan dan Pembatasan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian

Bab II Landasan Teori
2.1 Kajian Pustaka
2.2 Kerangka Berpikir
2.3 . . . . . . . . .
2.4 . . . . . . . . .

Bab III Metodologi Penelitian
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.2 Jenis Penelitian
3.3 Sumber Data

Bab IV Pembahasan
4.1 Analisis Data
4.2 Pembahasan Masalah
4.3 Mengolah Data
4.4 . . . . . . . . . . .
Bagian pendahuluan
Bab V Penutup
Kesimpulan
Saran
Daftar Pustaka
Indeks
Bagian penutup

2. Teknik Menulis Daftar Pustaka dan Catatan Kaki

Tahukah kamu bagaiman cara menulis daftar pustaka dan catatan kaki? Mari kita pelajari bersama uraian berikut ini.

a. Daftar pustaka

Daftar pustaka adalah daftar yang menyebutkan judul buku-buku, majalah, surat kabar, atau sumber-sumber lain yang digunakan dalam suatu penyusunan tulisan atau karangan.

Urutan penulisan daftar pustaka yang sering digunakan adalah nama pengarang, tahun terbit, judul buku, catatan edisi, kota penerbit, dan nama penerbit.

Mengenai nama pengarang, dalam daftar pustaka ketentuan penulisannya meliputi berikut ini.
  1. Ditulis secara alfabetis.
  2. Ditulis dengan urutan dibalik. Jika buku disusun oleh suatu lembaga, maka nama lembaga itu dipakai sebagai pengganti nama pengarang.
  3. Jika penulisnya dua orang, hanya penulis pertama yang penulisannya dibalik.
  4. Penulis yang terdiri lebih dari dua orang, hanya penulis pertama yang ditulis dan nama lain diganti et.all (dkk).
  5. Referensi yang berupa artikel dari koran, majalah, atau tabloid ditulis dengan tanda kutip.
  6. Referensi yang berupa karya terjemahan, pengarang dan judul asli perlu dicantumkan.
Contoh:
a. Judul buku : Komposisi
    Pengarang : Rudy Chandra
    Penerbit : Pt. Grafika
    Tahun terbit : 2014
    Kota penerbit : Koto Baru
    Ditulis menjadi : Chandra, Rudy. 2014.

b. Judul buku : Kamus Linguistik
    Pengarang : Harimurti Kridalaksana
    Tahun terbit : 2013
    Kota penerbit : Jakarta
    Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    Ditulis menjadi : Kridalaksana, Harimurti. 2013. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

b. Catatan kaki (foot note)

Catatan kaki adalah keterangan mengenai kata atau ungkapan di dalam teks, yang dicantumkan dalam margin bawah pada halaman buku atau karangan. Jenis catatan kaki antara lain sebagai berikut.

1) Catatan kaki jenis penjelas, yaitu catatan yang dibuat untuk menerangkan atau menjelaskan kata atau istilah dalam teks.

Contoh:
. . . .
Virus hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah parasit intraseluler obligat yang sangat kecil. Setiap virion mempunyai sebuah sistem inti pusat asam nukleat yang dikelilingi oleh kapsid.1 Beberapa virion juga mempunyai sampul. Secara morfologis, virus hewan dan tumbuhan dapat ikosahedral, helikal, bersampul, atau kompleks.
.
1 Selubung protein yang menghubungkan materi virus

2) Catatan kaki jenis gabungan (sumber dan penjelas), yaitu catatan gabungan dari sumber (refensi) dan penjelasan/keterangannya.
3) Catatan kaki jenis penunjukan sumber (referensi), yaitu catatan yang menunjuk pada sumber tempat kutipan berada. Penulisan catatan kaki meliputi: nama pengarang tidak ditulis lengkap (tidak dibalik karena referensi pertama kali), judul buku, kota tempat terbit, tahun terbit, dan halaman yang dikutip.